Review Buku Memoar Aurelie Moeremans yang Bikin Aku Emosi, Sedih, dan Nggak Habis Pikir

Buku Memoar Aurelie Moeremans yang Bikin Aku Emosi, Sedih, dan Nggak Habis Pikir

Sebenarnya aku baca buku ini karena penasaran.

Versi bahasa Indonesianya baru-baru ini ramai dibicarakan di Threads, padahal kalau nggak salah, versi bahasa Inggrisnya sudah terbit sejak Oktober lalu. Aku agak lupa detail tanggalnya, tapi yang jelas: ramai banget dibahas, dan ujung-ujungnya aku ikut mengunduh dan membacanya.

Buku ini berbentuk memoar, kisah hidup Aurelie sendiri, dan ditulis dalam format ebook. Menariknya lagi, ebook ini dibagikan secara gratis. Dari situ aja sebenarnya aku sudah merasa, “Oh, ini bukan buku yang pengin jual drama. Ini cerita yang pengin didengar.”

Dan ternyata… berat. Sangat berat.

Ketika Aurelie Masih 15 Tahun

15 vs 29

Di buku ini, Aurelie menceritakan masa remajanya yang pahit.

Waktu itu usianya masih 15 tahun. Ia pindah ke Indonesia dari Belgia dan mulai meniti karier sebagai artis. Di usia yang seharusnya masih mikir sekolah, pertemanan, dan jati diri, hidupnya malah dipertemukan dengan seorang pria bernama Bobby, yang saat itu berusia 29 tahun.

15 tahun dan 29 tahun.

Aku nulis angka ini aja rasanya sudah bikin nggak nyaman.

Mereka pacaran. Dan jujur, sampai sekarang aku masih nggak habis pikir: kok bisa orang tuanya mengizinkan? Ini bukan beda umur satu-dua tahun. Ini ibarat anak kecil pacaran sama om-om.

Dan dari hubungan itulah, hidup Aurelie pelan-pelan mulai hancur.

Bobby dan Kekerasan yang Sistematis

percakapan Bobby dan Aurelie

Di ceritanya, Bobby digambarkan sebagai sosok yang narsistik, manipulatif, keji, child groomer, dan pemerkosa. Semua istilah itu bukan hiperbola. Itu benar-benar terasa dari cara dia memperlakukan Aurelie.

awal mula pemerkosaan


Bayangin:

  • Anak 15 tahun dipaksa “melayani” pria dewasa, tanpa empati, tanpa rasa bersalah.
  • Aurelie diancam. Dikontrol. Dipaksa patuh dengan dalih “jadi anak baik”.
  • Puncaknya? Dinikahkan secara paksa.
  • Tenaganya dieksploitasi. Uangnya diambil.
  • Dia dijauhkan dari teman-temannya. Dijauhkan dari keluarganya.
  • Dan di balik semua itu, ada kekerasan, fisik dan mental.

Serius, ini bukan hubungan toxic biasa. Ini perusakan hidup secara perlahan dan sistematis.

Perasaan Campur Aduk Sebagai Pembaca

Aku baca buku ini dengan emosi yang naik-turun.

Dan jujur, kepalaku penuh komentar dari berbagai sisi.

Dari sisi Aurelie, aku sempat mikir: 

“Kok bisa sih kamu sepolos itu? Dia om-om, kamu masih gadis kecil. Kenapa mau? Kenapa nurut terus?”

Tapi lalu aku berhenti. Karena korban tidak pernah benar-benar punya posisi setara untuk melawan.

Dari sisi orang tuanya, aku juga gemas: 

“Kenapa gampang menyerah? Kenapa diizinkan? Kenapa nggak dibawa pulang ke Belgia dulu?”

Dan jujur, aku bertanya-tanya: ini soal karier, atau apa?

Sementara dari sisi Bobby… maaf ya, emosiku sudah nggak ketolong:

“Bob, mending lu ke laut aja, dimakan hiu paling ganas.”

Kesel. Marah. Jijik. Campur jadi satu.

Aurelie yang Bertumbuh dan Akhirnya Bebas

Seiring bertambahnya usia, Aurelie mulai tumbuh. Dia mulai lebih berani. Lebih sadar. Lebih terbuka kepada teman-teman dan keluarganya. 

Dan akhirnya, yang paling aku syukuri sebagai pembaca:

Aurelie berhasil lepas. Bebas dari Bobby. Bebas dari kekejaman yang selama ini membungkam hidupnya. Ending-nya bukan manis. Tapi lega.

Bobby di Dunia Nyata: Persis Seperti di Buku

Bobby di dunia nyata persis dengan buku

Yang bikin makin bikin geleng-geleng kepala, Bobby, atau Roby Trimonti, malah muncul ke publik setelah buku ini ramai. Undang pers, pasang wajah tersakiti, akting sebagai korban.

Dan jujur aja…

persis banget seperti yang digambarkan di buku.

Makin disorot, makin doyan. Tipikal NPD.

Untungnya, netizen Indonesia sekarang sudah makin pinter. Orang kayak gini ngapain dikasih panggung? Cancel aja. Kalau masih ada brand yang mau kerja sama, itu sih sudah keterlaluan.

Sekarang dia malah jadi bahan ledekan.

Dan aku yakin, meski diledekin, dia tetap senang-senang aja. Orang kayak gitu memang hidup dari perhatian.

Bukan Bacaan Ringan

Buku ini bukan bacaan ringan. Ini buku yang bikin dada sesak, kepala panas, dan hati campur aduk. Tapi menurutku, memoar ini penting. Bukan cuma soal Aurelie, tapi soal bagaimana grooming dan kekerasan bisa terjadi di depan mata, dan dibiarkan.

Aku selesai baca buku ini dengan satu perasaan utama:

marah, tapi juga lega karena Aurelie selamat.

Dan semoga, dengan cerita ini, semakin banyak orang yang sadar:

anak 15 tahun itu bukan dewasa kecil. Mereka harus dilindungi. Selalu.

Bisa Baca Di Mana?

Untuk baca buku ini, kamu bisa masuk ke instagram atau threads Aurelie Moeremans. Di sana, Aurelie membagikan ebook-nya secara gratis. 

Jadi, kalau ada yang nyuruh bayar, jangan mau. Toh, penulisnya aja membagikan secara gratis, kok.

Tapi beberapa hari ini aku dapat kabar bahwa ebook ini akan segera dijadikan buku fisik. Untuk kamu yang terbiasa baca buku fisik, bisa beli buku fisiknya nanti. Judulnya pun sama. Tapi bayar ya, namanya juga beli. Bukan gratis lagi, karena ada biaya produksi pencetakan buku.

Posting Komentar

0 Komentar