Tapi lucunya, aku malah dikenal sebagai “orang buku”.
Kalau dipikir-pikir lagi, semuanya bermula cukup sederhana.
Awalnya aku bukan tipe pembaca yang baca setiap hari. Aku membaca saat merasa butuh saja. Misalnya ketika penasaran soal psikologi, aku akan cari buku psikologi lalu membacanya berulang kali sampai benar-benar paham. Setelah itu ya sudah, lanjut hidup seperti biasa lagi.
Lalu sekitar tahun 2018, seingatku, aku mulai kembali membuka Instagram. Waktu itu aku bahkan tidak terlalu paham cara bermain media sosial. Feed kosong, jarang posting apa pun, dan bingung mau isi dengan apa.
Sampai akhirnya aku berpikir, daripada kosong terus, kenapa tidak posting soal hobiku saja?
Dari situlah semuanya dimulai.
Aku mulai posting buku-buku yang kubaca, terutama novel horor. Aku membaca lalu menuliskan kesan membaca di caption. Pelan-pelan orang mulai mengenalku sebagai pembaca buku horor. Rasanya menyenangkan juga waktu itu. Untuk pertama kalinya aku merasa punya “identitas” di media sosial.
Branding itu akhirnya berkembang semakin jauh. Aku mulai membuat review buku di YouTube, membuat blog review buku, sampai perlahan dikenal sebagai orang yang memang dekat dengan dunia literasi.
Apakah branding itu berhasil?
Tentu saja berhasil.
Orang-orang mulai datang untuk membahas buku, bertanya rekomendasi, bahkan mengenalku sebagai influencer buku. Dan jujur saja, dulu aku menikmati semuanya.
Bukan Soal Bosan Membaca Buku, Tapi Bosan Mempertahankan Identitas
Tapi setahun belakangan, aku mulai merasa lelah.
Bukan karena aku membenci buku. Aku masih suka membaca. Hanya saja, membaca tidak lagi menjadi prioritas utama di tengah banyaknya kegiatan yang harus kulakukan setiap hari.
Aku mulai lebih sering bermain game, menonton drama, atau sekadar menikmati waktu kosong tanpa harus memikirkan target membaca. Semangat membuat konten buku juga perlahan melemah.
Yang membuatku bingung, aku sempat merasa bersalah karena itu.
Seolah-olah aku tidak boleh berubah.
Seolah-olah orang yang sudah dikenal sebagai “pembaca” harus selalu terlihat sedang membaca buku.
Aku mulai tidak puas dengan konten sendiri. Mulai lelah mengikuti ritme yang dulu kubangun sendiri. Sampai akhirnya aku memutuskan berhenti membranding diri sebagai influencer buku.
Aku kembali lagi menjadi pembaca biasa.
Aku juga mulai berhenti ikut event buku, giveaway, kerja sama, dan berbagai rutinitas lain yang dulu terasa menyenangkan. Lama-lama semuanya terasa seperti kewajiban.
Dan ternyata, yang melelahkan bukan kegiatan membacanya.
Yang melelahkan adalah mempertahankan identitas itu terus-menerus.
2 Alasan Utama Aku Kelelahan Dengan Rutinitas Membaca
Setelah kupikir lebih jauh, ada dua alasan utama kenapa aku akhirnya sampai di titik ini.
Hal pertama adalah aku merasa punya “utang membaca”.
Dulu aku rajin sekali membeli buku. Sedikit-sedikit checkout. Ada buku menarik beli. Ada diskon beli lagi. Sampai akhirnya buku terus menumpuk sementara waktu membaca semakin sedikit.
Rak buku mulai penuh. Kamar terasa semakin sempit. Ada tumpukan buku yang bahkan belum pernah disentuh sama sekali.
Aneh ya, sesuatu yang dulu membuat bahagia malah berubah jadi sumber tekanan.
Melihat tumpukan itu saja kadang sudah membuatku lelah duluan.
Hal kedua adalah aku merasa punya kewajiban membuat konten.
Setiap selesai membaca, rasanya harus posting.
Harus review.
Harus update.
Harus terlihat produktif membaca.
Padahal sebenarnya tidak ada keuntungan besar yang benar-benar membuatku harus terus memaksakan diri. Memang ada rasa puas, ada perasaan senang saat konten diapresiasi orang lain, tapi belakangan bahkan perasaan itu ikut memudar.
Akhirnya aku mulai bertanya ke diri sendiri:
Kalau semuanya sudah terasa melelahkan, kenapa masih dipaksa?
Berhenti Saja, Jangan Dipaksa
Pernah ada yang bilang kalau membaca seharusnya menjadi kegiatan yang menyenangkan, bukan malah membebani.
Kalimat itu lama sekali tinggal di kepalaku.
Dan memang benar.
Kenapa aku harus merasa bersalah hanya karena tidak menyelesaikan satu buku dalam sebulan? Kenapa aku harus merasa gagal hanya karena lebih memilih bermain game atau menonton drama dibanding membaca?
Tidak ada yang salah dengan itu.
Akhirnya aku memilih berhenti memaksa diri sendiri.
Sekarang aku kembali menjadikan membaca sebagai hiburan di waktu senggang. Sama seperti blogging, yang sekarang terasa jauh lebih menyenangkan saat dilakukan tanpa tekanan apa pun.
Aku tidak lagi ingin membaca demi terlihat produktif.
Aku hanya ingin membaca saat memang ingin membaca.
Dan mungkin, ternyata aku memang bukan seseorang yang hidup hanya untuk buku.
Aku hanya seseorang yang kadang menemukan dirinya sendiri lewat buku.


0 Komentar