Review Buku Xenoglosofilia, Kenapa Harus Nginggris?

Review Buku Xenoglosofilia, Kenapa Harus Nginggris?, Ivan Lanin

Judul: Xenoglosofilia
Penulis: Ivan Lanin
Penerbit: Buku Kompas
Tebal Buku: 232 Halaman

Buku Xenoglosofilia: Kenapa Harus Nginggris? ini merupakan kumpulan tulisan Ivan Lanin, seorang Wikipediawan, tentang bahasa Indonesia yang digunakan sehari-hari. Tulisan ini menyadarkan kita, pengguna bahasa, bahwa selama ini telah abai berbahasa dengan baik, dan lebih senang berbahasa asing, khususnya Inggris.

Tak sedikit pengguna bahasa, misalnya wartawan yang setiap hari bergumul dengan kata, salah menggunakan kata lajur dan jalur. Malah ada juga yang tidak bisa membedakan antara di sebagai kata depan dan di- sebagai awalan. Belum lagi jika menyangkut istilah yang merupakan padanan dari bahasa asing. Real estate, link atau hyperlink, dan blogger, umpamanya, buat mereka lebih menarik daripada lahan yasan, pranala, dan narablog.

Buku tentang bahasa mencoba menjawab ketidaktahuan atau kekurangpedulian pengguna bahasa mengenai hal-hal seperti itu. Menariknya, penulis adalah seorang yang bukan berlatar belakang ilmu bahasa. Ivan adalah sarjana teknik kimia dari ITB dan master di Jurusan Teknologi Informasi UI. Cara bertutur yang renyah dan ringan menyebabkan tulisan dalam buku ini juga mudah dicerna

Review Singkat Xenoglosofilia, Kenapa Harus Ngingris?

Xenoglosofilia mempunyai arti kesukaan yang berlebihan terhadap bahasa asing.Mungkin kita kadang tidak sadar kalau dalam bahasa sehari-hari sering sekali menggunakan kata meeting, urgent, meet up, hangout, real estate, dll. Padahal sebenarnya jika dicari padanan kata dalam bahasa Indonesia-nya itu tentu ada. Tapi rasanya "aneh atau tidak terbiasa" kalau menggunakan padanan dalam bahasan Indonesia-nya.

Sempat tertohok dengan kalimat yang ada di buku ini, kurang lebih seperti ini "kalau kita ingin memajukan bahasa sendiri, kenapa harus malu menggunakan bahasa sendiri". Fenomena lebih gaya atau lebih telihat keren menggunakan bahasa inggris memang kerap sekali terjadi.

Ada manfaat lain dari buku ini yang paling ngena buat aku, terlebih aku ini seorang penerjemah amatir, aku jadi lebih bisa memahami bagaimana cara memadupadankan kosakata. Karena sering sekali saat aku mencari padanan suatu kata, terasa aneh saat dibaca dalam sebuah kalimat.

Aku merekomendasikan buku ini bagi semuanya yang ingin membiasakan diri berbahasa Indonesia.

Review Xenoglosofilia juga bisa didengarkan melalui link dibawah ini


Posting Komentar

0 Komentar