Review Buku Sejarah Penjelajah Bahari, Robert Dick-Read

Penjelajah bahari, Robert Dick-Read

Judul : Penjelajah Bahari
Penulis : Robert Dick-Read
Penerbit : Mizan
Tebal Buku : 337 Halaman

Masih ingat ga sama lagu "Nenek moyangku seorang pelaut"? Pernah ga kamu berpikir, bener ga sih kalau nenek moyang kita itu seorang pelaut? Sejak kapan mereka berlayar? Kok tidak ada literasi yang menyebutkan ke sana sih?

Aku mendengar kalau di Madagaskat-Afrika, mereka menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa sehari-hari, dan artikel itu menyebutkan kalau penduduk Madagaskar adalah turunan bangsa Jawa. Lantas, kok bisa sih? Sejak kapan bangsa Jawa berlayar sampai ke sana?

Menapak Tilas Jejak Pelaut Masa Lalu dari Buku Penjelajah Bahari

Banyak jejak-jejak masa lalu yang diduga berhubungan dengan nenek moyang kita, mari kita ulas beberapa diantaranya.

  • Seperti yang kamu ketahui di masa lalu perdagangan dilakukan melalui jalur laut dan Nusantara berada ditengah-tengah jalur perdagangan antara Tiongkok dan Timur Tengah. Dikatakan juga bahwa Kapal Tiongkok tidak pernah berlayar sampai ke Timur Tengah, perdagangan selalu melewati Nusantara terlebih dahulu.
  • Ada salah satu literatur kuno menyebutkan ada kapal besar yang menjadi armada perdagangan, berlayar menaklukan laut melintasi Samudra Hindia. Begitu gagahnya kapal itu digambarkan hingga tidak ada yang sanggup menyaingi kegagahannya pada masa itu.
  • Kapal yang sesuai dengan ciri-ciri yang digambarkan oleh literatur kuno tersebut ada di relief Candi Borobudur.
Borobudur Ship

Borobudur Ship - sumber wikipedia

  • Ada bukti lain perjalanan lintas laut terkait rempah-rempah. Di Terqa, Efrat Tengah, ditemukan makam kuno yang diduga dari tahun 1700SM dan di dalam makam tersebut ditemukan cengkih. Seperti yang kita tahu, cengkih hanya ada di Maluku, Indonesia.
cengkih maluku
  • Bukti yang lebih mengejutkan lagi adalah peradaban Indonesia di Afrika. Mulai dari alat musik, bahasa, tumbuhan seperti ubi jalar dan pisang raja, prosesi pemakaman, karya seni, dampai ke alat tukar yang berupa kulit kerang. Semua ini mengarah kepada peradaban Indonesia kuno yang dibawa oleh para pelaut jaman dulu yang diduga membentuk koloni di Madagaskar.
Penduduk Madagaskar

Penduduk Madagaskar, sumber: kumparan

Pengalaman Saat Membaca Buku Ini Penjelajah Bahari

Membaca buku ini jadi semakin kagum dengan bangsa Indonesia. Ditengah pemerintahan sekarang yang terkadang hukumnya agak sulit dicerna akal sehat, masih ada hal yang patut dibanggakan di masa lalu.

Sejarah Indonesia kuno ini memang rumit, karena tidak ada literatur dari bangsa Indonesia sendiri tentang pelaut-pelaut handal ini, penulis mencarinya dari literatur negara lain yang pada saat itu diduga ada hubungannya dengan bumi nusantara. Jadi tidak heran kalau ada banyak sekali puzzle yang harus disusun. Aku salut sama penulisnya karena berhasil menyusun puzzle-puzzle tersebut hingga membentuk kesimpulan kalau Indonesia pernah punya pelaut yang handal jauh sebelum Colombus.

Aku juga jadi sadar, kalau stigma primitif terhadap bangsa Indonesia itu salah besar. Nenek moyang kita terdahulu merupakan orang-orang yang disegani bangsa lain, dan bangsa Indonesia itu bangsa yang besar dan kaya.

Namun ada satu hal yang aku agak sesalkan di buku ini. Seharusnya penulis membuat footnote disetiap halaman yang memang perlu penjelasan lebih. Bukan berarti tidak ada, hanya saja keterangan atau penjelasan tambahan ini ditaruh di akhir bab. Cukup membuat kesal karena harus membolak balik halaman.

Aku Rekomendasikan Buku Ini Untuk....

Untuk kamu yang tertarik dengan sejarah Indonesia, untuk kamu yang ingin lebih mencintai bangsa sendiri. Coba baca buku ini, bangsa kita bukan bangsa terbelakang, bangsa kita bangsa yang maju jauh sebelum ada penjajahan Belanda yang akibat mereka pula otak kita dicuci hingga terlahirlah pemikiran-pemikiran yang ada sampai saat ini.

Review ini juga bisa didengarkan dan ditonton melalui link di bawah ini

Spotify channel Teman Buku

Link lainnya

Klik >> Review Buku untuk postingan seputar ulasan buku.

Klik >> Stories untuk postingan seputar daily life.

Klik >> Channel Teman Buku untuk melihat video seputar buku di Youtube.

Klik >> Podcast Teman Buku untuk mendengarkan podcast seputar buku di Spotify.

Posting Komentar

30 Komentar

  1. Pada bagian ini:

    Ada bukti lain perjalanan lintas laut terkait rempah-rempah. Di Terqa, Efrat Tengah, ditemukan makam kuno yang diduga dari tahun 1700SM dan di dalam makam tersebut ditemukan cengkih. Seperti yang kita tahu, cengkih hanya ada di Maluku, Indonesia.

    Membaca itu, saya jadi teringat pada ekspedisi Magelhaens 500 tahun lalu yang datang ke Indonesia untuk ambil rempah dan dibawa ke Eropa. Ingatan ini ada karena saya pernah 2x jelajah Tidore dan salah satunya dalam rangka kegiatan menyambut pelayaran Napak Tilas Pelayaran Magelhaens tsb. Apakah cengkih tersebut bawaan dari pelayaran tsb? :D

    Saya jadi tertarik untuk baca bukunya mbak, dan kebetulan lagi ada event terkait dunia maritim Indonesia.

    Btw, beli di manakah bukunya? Mungkin punya rekomendasi?

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku belum tahu soal ekspedisi Magelhaens ini kak, mungkin saja benar dia yang bawa. Aku dulu beli di pameran buku Gramedia, sekarang kayaknya stock bukunya sudah habis.

      Hapus
  2. Saya senang membaca buku sejarah mbak
    menarik buku ini
    bisa tahu bagaimana sejarah penjelajah bahari di Indonesia

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, aku malah semenjak baca ini makin terkagum sama bangsa sendiri.

      Hapus
  3. Iya ya kita rasanya tidak punya sejarah atau dongeng sekalipun yang menceritakan siapa nenek moyang kita yang terkenal sebagai pelaut handal. Padahal orang asing datang mereka menggunakan jalan laut ya...

    Hany ada lagunya saja, tanpa memberitahu siapa dia.

    Buku sejarah yang sangat menarik. Sudah ada di Ipusnas blm ya... Mau cek sekalian deh

    BalasHapus
    Balasan
    1. kebetulan aku cari belum ada di iPusnas. huhuhu

      Hapus
  4. "Sejarah Indonesia kuno ini memang rumit, karena tidak ada literatur dari bangsa Indonesia sendiri tentang pelaut-pelaut handal ini"

    Dalam hal dokumentasi sejarah, kayaknya negara kita masih lemah. Dokumen2 penting saja lebih rapi luar negeri dalam mengarsipkannya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku curiganya karena dokumen dulu berupa lontar dengan bahasa sansekerta, ditambah penjajahan Belanda yang meraup semua hal termasuk dokumen bersejarah, dokumen kita di boyong ke negeri sana kak.

      Hapus
  5. wow, keren banget blogger yang bisa ngulas buku sejarah... semangat terus mba!

    BalasHapus
  6. JASMERAH, Jangan Sampai Melupakan Sejarah
    kutipan itu langsung teringat begitu membaca postingan blog ini. Kita memang selalu diberikan pelajaran sejarah di sekolah maupun saat kuliah, tetapi jarang sekali ada buku yang mengulas tentang penjelajah bahari ini..
    Ulasannya lengkap dan mudah dimengerti.. saya jadi tertarik baca juga

    BalasHapus
  7. Keren ya nenek moyang kita dulu, dikira primitif tapi sebenarnya sudah cukup modern. Tapi sayangnya hanya sedikit literatur yang menunjukan hal ini, arsip kita soal sejarah buruk banget. Jadi banyak cerita sejarah yang hilang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku malah curiga diambil Belanda sih kak, karena memang ada beberapa arsip yang dibawa ke sana.

      Hapus
  8. Salut sama orang yang bisa membuat buku sejarah seperti buku Penjelajah Bahari ini. Karena mencari sumbernya harus dari literasi luar. Saya yakin, bisa saja nenek moyang kita dulu adalah bangsa yang jaya dan disegani oleh negara lain, tapi kenyataan itu ditutup-tutupi atau diubah oleh bangsa yang berjaya setelahnya. *Efek banyak menonton drama/film, kalau bukti sejarah bisa dimanipulasi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya benar, dan pasti risetnya ga main-main.

      Hapus
  9. Selalu menarik jika membaca buku bertemakan sejarah, pikiran kita seolah diajak memasuki lorong waktu dan membayangkan apa yang terjadi di masa lalu.

    Dan ternyata ulasan bukunya bisa juga dinikmati di Spotify ya. Wah, Menarik!

    Terima kasih atas ulasannya, Kak.

    Salam hangat. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. benar kak, aku malah terkadang berpikir ingin mencoba lorong waktu kembali ke jaman kejayaan Majapahit dan meneliti sejarah di sana.

      Hapus
  10. wah bacaannya ciamik kak. aku suka dg history. kalo misal dijadikan bakal seheroik film2 dari luar ya. sejarangnya dan jejak petualangannya tentu bisa menumbuhkan rasa nasionalisme

    wah bw kali ini macam dicekoki , nih lho Indonesia harusnya kamu bangga

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha iya kak, belum ada memang ya. baru ada film adaptasi dari novel yang judulnya tenggelamnya kapal van der wijk aja kalau soal kelautan di Indonesia dan itupun bukan kapal Indonesia huhu

      Hapus
  11. Suamiku nih tertarik banget sama sejarah. Kayaknya aku harus kasih infonya deh siapa tau dia mau beli bukunya. Yaa akhirnya aku jg sih yg ikut baca bukunya haha. Thanks ya Kak!

    BalasHapus
  12. wahh emang yaa ga boong slogan nenek kita seorang pelaut dan memang penjelajah bahari yang lebih senior dibandingkan kisah-kisah ceng ho sama colombus, sayangnya kita emang minim penulisan kisah jaman dulu ya, kalah sama bangsa2 barat cmiiw. Btw aku langsung kepo sama podcast nyaaaa, seru juga ya ngulas buku2 di podcast gitu

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihi makasih kak udah kepoin podcastku.

      Hapus
  13. Selain tertarik dengan masa lalu (sejarah) Indonesia sekian ratus tahun yg lalu, aku tuh penasaran di jaman awal peradaban manusia di Indonesia, terutama di Jawa. Kebayang gimana pertama kali mereka menemukan teknologi bahwa bisa menyeberangi lautan...

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya benar, karena membentuk sebuah rakit saja bisa dibilang kemajuan jaman dan teknologi ya

      Hapus
  14. keren buku nya rekomen banget untuk menemani sela-sela waktu WFH.

    BalasHapus
  15. Sangat edukatif artikelnya. bisa menumbuhkan kecintaan membaca buku

    BalasHapus