Sebuah Alegori Hidup Tenang dan Damai - Review Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas

 

Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas

Judul: Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas
Penulis: Eka Kurniawan
Penerbit: Gramedia
Tebal Buku : 245 Halaman

Di puncak rezim yang penuh kekerasan, kisah ini bermula dari satu peristiwa: dua orang polisi memerkosa seorang perempuan gila, dan dua bocah melihatnya melalui lubang di jendela. Dan seekor burung memutuskan untuk tidur panjang. Di tengah kehidupan yang keras dan brutal, si burung tidur merupakan alegori tentang kehidupan yang tenang dan damai, meskipun semua orang berusaha membangunkannya

Alegori Hidup Tenang dan Damai dari Novel Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas

Namanya Ajo Kawir, ia adalah orang yang punya nasib nahas dihidupnya. Burungnya tertidur setelah melihat kejadian mengerikan saat dia masih kecil, melihat seorang wanita gila diperkosa oleh dua orang polisi.

Dia menjalani hidupnya dengan sering bertindak kekerasan untuk melampiaskan hasratnya. Segala hal ia coba untuk membangunkan si burung. Sampai suatu ketika dia bertemu seorang gadis cantik bernama Iteung, dan disaat yang sama dia mempunyai misi untuk menghabisi nyawa Si Macan.

Tidak sampai disitu. Masalah lain yang muncul bertubi-tubi membuat dia putus asa hingga berakhir di penjara. Setelah keluar dari penjara, ia mengambil jalan filsuf. Berdasarkan apa yang diajarkan burungnya yang tertidur, ia mengambil hidup damai dan tenang, menghindari kekerasan meski banyak yang mengusiknya.

Namun, ada hal yang masih mengganjal. Kisah cintanya bersama Iteung belum juga tuntas.

Kesan Setelah Membaca Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas

Narasi yang digunakan di buku ini sangat blak-blakan. Tak heran aku melabeli buku ini dengan 21+, karena buku ini vulgar sekali. Adegan kekerasan digambarkan dengan gamblang, sama halnya dengan adegan seks yang juga digambarkan tanpa sensor.

Novel ini berlatar tahun 90-an sepertinya. Dituliskan rezim kekerasan, mungkin memang pada tahun 90-an memang sangat kental sekali dengan kekerasan. Anak-anak muda berlomba menjadi preman meski dari keluarga mampu. Dan kurasa kedua sahabat ini - AjoKawir dan Tokek dari keluarga yang mampu dilihat dari bagaimana pendidikan mereka.

Isu sosial yang ditampilkan benar-benar miris. Bagaimana bisa orang yang seharusnya mengayomi menjadi pelaku utama tindak asusila? Seorang guru SMA dan dua Polisi. Terlebih lagi ada Paman Gembul yang menggambarkan sebagai orang kaya yang dengan kekuatan uangnya bisa menggerakan orang lain untuk mencapai tujuannya - dalam novel ini, yaitu membunuh Si Macan.

Perlu kesadaran penuh untuk membaca novel ini agar tidak miskonsepsi, dan novel ini tidak diperuntukkan untuk usia dibawah usia dewasa karena alasan vulgar tadi. 

Pesan yang ditonjolkan dalam buku ini. Untuk perempuan, beranilah untuk menjaga kemaluanmu dari siapapun, karena itu harta terakhir yang perempuan miliki, kita tak pernah menyangka sosok bajingan akan bersama orang yang kita hormati. 

Disaat kita lelah menggapai asa yang lama kita perjuangkan, serahkanlah semua pada Tuhan dan dunia, karena terkadang asa akan datang disaat kita sudah tidak mengharapkannya lagi.

Untuk review buku lainnya bisa klik menu Books
Kerjasama review dan lainnya bisa email ke nurhayati.irma20@gmail.com

Tonton Versi Videonya Di Channel YouTube Teman Buku


Posting Komentar

0 Komentar