Monyet Yang Ingin Menikahi Kaisar Dangdut | O-Eka Kurniawan

 

review novel O eka kurniawan

Halo semuanya, hari ini aku mau membahas buku karya Eka Kurniawan ke-4 yang aku baca, setelah sebelumnya aku sudah membahas Cantik Itu Luka, Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas, dan Lelaki Harimau.

Novel kali ini dari judulnya sudah unik, hanya satu huruf "O", dengan blurb yang singkat "tentang seekor monyet yang ingin menikah dengan kaisar dangdut". Hanya satu kalimat itu saja, Eka Kurniawan berhasil menyihir para pembaca untuk mengambil buku ini dari etalase dan membelinya untuk dibaca di rumah. Terlebih lagi cover lama yang pas sekali dengan isi cerita, yaitu terdapat ilustrasi seekor monyet dan dibawahnya ada judul buku yang hanya satu huruf "O".

Menurut brilio.net, novel "O" ini menduduki peringkat ke-4 sebagai novel paling banyak digemari di luar negeri setelah novel-novel dengan peringkat yang berurutan Cantik Itu Luka, Lelaki Harimau, Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas.

Dari judul yang hanya satu huruf dan blurb yang singkat ini, tentu bikin rasa penasaran memuncak kan? Lalu, bagaimana sebenarnya kisah novel ini? Apakah monyet ini benar-benar monyet atau hanya sebuah analogi saja?

Kisah Monyet Yang Ingin Menikahi Kaisar Dangdut

review novel O eka kurniawan


Entang Kosasih ingin mengikuti jejak Armo Gundul, berubah jadi manusia, meninggalkan Rawa Kalong. Pikiran gila Entang Kosasih ditentang semua monyet di Rawa Kalong karena itu bisa saja membahayakan nyawanya. Lagipula, kisah Armo Gundul hanya cerita lama saja yang selalu diceritakan para tetua monyet. Hanya Entang Kosasih yang percaya dengan kisah itu. 

O, monyet betina yang polos yang sekaligus kekasih Entang Kosasih, mendengar hal itu hanya bisa memendam rasa khawatir akan pikiran gila kekasihnya. Namun, O, percaya kalau Entang Kosasih bisa berubah menjadi manusia.

Sepeninggal Entang Kosasih, O, keluar dari Rawa Kalong dan berkelana mencari kekasihnya. Bertemu dengan pawang monyet bernama Betalumur dan berlatih menjadi manusia dalam sirkus topeng monyet miliknya agar bisa bertemu kekasihnya kelak, Entang Kosasih.

Suatu hari, O menemukan poster Kaisar Dangdut, tertempel di dinding pasar. Ditatapnya lama-lama, dia merasa dia mengenal manusia itu. Kemudian dia yakin kalau manusia yang ada di poster itu, kaisar dangdut itu, adalah kekasihnya, Entang Kosasih.

Sejak pertemuannya dengan poster Kaisar Dangdut, O bermimpi untuk menjadi manusia agar bisa bertemu dan menikah dengan kekasihnya.

Dari Judul dan Blurb Yang Sederhana, Memuat Cerita Yang Kompleks

Novel ini tebalnya sekitar 400+ halaman. Lebih tebal dibanding dua novel sebelumnya yang aku baca, Lelaki Harimau dan Seperti Dendam, Rindu Harus dibayar tuntas. Namun, tebalnya novel ini tidak menjadi kekurangan, bahkan aku masih menyimpan banyak pertanyaan dan berharap jawabannya ada di dalam novel meski akan menambah tebal novel ini sendiri.

Awal-awal bab sempat dibuat pusing karena ceritanya menclok sana menclok sini, dan hampir saja dibuat menyerah membacanya. Kepingan-kepingan adegan dari berbagai tokoh di sini dibuat acak awalnya, dan tokoh-tokohnya di sini tidak hanya monyet saja, ada hewan lain, manusia, bahkan sebuah revolver. 

Seperti halnya puzzle, jika disusun tentu akan terlihat benang merahnya. Dan sampai ditengah novel, barulah benang merahnya terlihat. Semua tokoh di sini yang awalnya dibuat terpisah, sampai akhir dibuat saling menyambung bak memiliki benang merah yang terhubung ke satu titik.Di sinilah letak serunya novel "O" ini.

Karena tokohnya, tidak hanya hewan saja, jadi bisa dibilang novel ini berbentuk semi fabel. Yang uniknya lagi, terdapat hubungan antara hewan dan manusia. Seperti Syekh dan burung kakak tua, Babi dan Betalumur, Anjing dan Rini Juwita, 

Kisah paling menarik untuk diikuti menurutku adalah kisah burung kakaktua yang selalu mengingatkan untuk mendirikan sholat, tikus yang mempunyai kemampuan seperti cenayang, kisah ibu sanca dan kisah revolver.

Perlu digaris bawahi, seperti halnya novel-novel sebelumnya, novel ini pun menyajikan narasi yang brutal dan blak-blakan. Aku bahkan hampir mau muntah karena membaca satu adegan tentang Rini Juwita.

Novel ini membuat aku mempertanyakan sisi kemanusiaan si manusia itu sendiri. Manusia bisa hilang sisi kemanusiaan dan bertingkah seperti binatang karena dendam dan amarah. Dan para hewan di novel ini justru memperlihatkan hal yang jauh lebih baik tentang peduli terhadap sesama daripada si manusia itu sendiri. Jadi, apakah novel ini justru memperlihatkan sisi kebinatangan manusia?

Novel ini menyajikan sisi kompleksitas manusia, tentang yang kuat dan yang lemah, makan dan dimakan, berjuang atau menyerah, mengikuti dendam atau berdamai dengan diri sendiri, semua jadi satu.

Meskipun plotnya lompat-lompat dan perlu kerja ekstra untuk menyusun kepingan puzzlenya, belum lagi isi ceritanya yang kompleks, namun, novel ini mampu menyihir pembaca untuk tetap membacanya hingga akhir. Membuat pembaca tidak hanya merasakan kengerian, namun juga ada rasa humor dan sindiran yang bisa didapatkan. 

Novel ini aku rekomendasikan bagi teman-teman yang menyukai novel dengan kisah binatang di dalamnya. Karena novel ini menyajikan pemikiran yang tidak biasa dari sudut pandang hewan.

Untuk review buku lainnya bisa klik menu Books
Kerjasama review dan lainnya bisa email ke ikarireads@gmail.com

Posting Komentar

0 Komentar