Di era literasi digital, informasi datang tanpa henti. Dari bangun tidur sampai sebelum tidur lagi, kita terbiasa disuguhi konten cepat—video pendek, potongan opini, tren yang datang dan pergi begitu saja.
Di tengah kondisi ini, muncul satu istilah yang terasa makin relevan: brainrot.
Istilah ini sering dipakai di internet dengan nada bercanda, tapi sebenarnya menggambarkan sesuatu yang cukup serius. Brainrot merujuk pada kondisi ketika otak terlalu sering mengonsumsi konten cepat dan dangkal, sampai kehilangan kemampuan untuk fokus dan berpikir lebih dalam.
Lewat tulisan ini, aku ingin membahas fenomena brainrot bukan sebagai tren semata, tapi sebagai bagian dari perubahan cara kita membaca, berpikir, dan memaknai informasi di era digital.
Apa Itu Brainrot dan Kenapa Bisa Terjadi?
Secara sederhana, brainrot bisa dipahami sebagai kelelahan kognitif akibat stimulasi berlebihan. Otak terus diberi rangsangan cepat, tapi jarang diajak berhenti dan memproses makna.
Beberapa hal yang sering jadi pemicunya:
- Paparan konten singkat yang berlebihan, seperti TikTok, Reels, atau Shorts
- Algoritma media sosial yang memberi dopamin instan dan bikin kita ingin terus scroll
- Minimnya aktivitas berpikir dalam, seperti membaca panjang, menulis reflektif, atau berdiskusi serius
Tanpa disadari, otak terbiasa melompat dari satu hal ke hal lain. Ada banyak yang dikonsumsi, tapi sedikit yang benar-benar dicerna.
Tanda-tanda Brainrot dalam Kehidupan Sehari-hari
Fenomena brainrot sebenarnya cukup mudah dikenali, terutama dari kebiasaan kecil yang terasa sepele.
Beberapa tanda yang sering muncul:
- Sulit fokus membaca artikel atau buku lebih dari beberapa menit
- Sering scroll tanpa tujuan yang jelas
- Cepat bosan kalau tidak ada hiburan instan
- Tanpa sadar meniru gaya bicara, kata, atau tren dari internet
- Merasa kosong atau lelah setelah lama bermain media sosial
Bukan berarti semua ini salah. Tapi ketika terjadi terus-menerus, ada baiknya kita mulai bertanya: apa yang sedang terjadi dengan cara otak kita bekerja?
Dampak Brainrot terhadap Literasi dan Budaya Baca
Brainrot tidak hanya soal fokus yang menurun, tapi juga berpengaruh pada cara kita berhubungan dengan bacaan dan pengetahuan.
Beberapa dampaknya terasa cukup nyata:
- Minat baca menurun karena buku dianggap terlalu lambat
- Kemampuan berpikir kritis melemah karena terbiasa menerima informasi mentah
- Budaya literasi bergeser dari pemahaman ke sekadar hiburan
Padahal, literasi digital seharusnya membantu kita memahami dunia dengan lebih baik—bukan sekadar mengonsumsinya dengan cepat.
Mengembalikan Keseimbangan di Tengah Otak Digital
Menghadapi brainrot bukan berarti kita harus meninggalkan teknologi sepenuhnya. Yang lebih penting adalah melatih otak untuk kembali menikmati ritme yang lebih pelan.
Beberapa langkah kecil yang bisa dicoba:
- Membatasi waktu scrolling, misalnya maksimal satu jam sehari
- Mulai kembali mengonsumsi konten panjang dan bermakna, seperti artikel, buku, atau podcast
- Melakukan aktivitas offline seperti journaling, jalan pagi, atau ngobrol tanpa ponsel
- Melatih fokus secara bertahap, cukup lima halaman buku per hari, lalu perlahan ditambah
- Memberi ruang untuk diam, karena kadang otak hanya butuh jeda
Tidak perlu langsung sempurna. Yang penting konsisten.
Belajar Fokus Kembali di Dunia yang Terlalu Bising
Fenomena brainrot mengingatkan kita bahwa kecepatan bukan selalu tanda kemajuan. Di dunia yang semakin bising, kemampuan untuk fokus, membaca dengan pelan, dan berpikir dalam justru menjadi bentuk literasi yang paling berharga.
Mungkin kita tidak bisa sepenuhnya lepas dari konten cepat. Tapi kita masih bisa memilih kapan ingin berhenti, menarik napas, dan memberi ruang bagi pikiran untuk benar-benar bekerja.
Pelan-pelan saja. Otak kita juga butuh jeda.




0 Komentar