Kenapa Aku Masih Memilih Membaca Buku di Tengah Konten Serba Cepat

 

kenapa masih memilih baca buku

Di tengah gempuran video pendek, thread panjang yang jarang ditamatkan, dan kebiasaan scroll tanpa sadar, membaca buku sering terasa seperti aktivitas yang “berat”. Terlalu pelan, terlalu lama, dan kadang terasa ketinggalan zaman.

Padahal justru di situ alasannya kenapa aku masih memilih membaca.

Membaca buku buatku bukan soal mengejar informasi sebanyak-banyaknya, tapi soal memberi jeda. Ruang untuk pelan-pelan memahami sesuatu, tanpa harus langsung bereaksi. Sesuatu yang makin sulit ditemukan di tengah arus konten yang terus berlomba minta perhatian.

Lewat ikariteads, aku ingin berbagi kenapa membaca buku masih terasa relevan, setidaknya buatku, di era yang serba cepat seperti sekarang.

Membaca Itu Bukan Cuma Soal Tahu Lebih Banyak

Ada banyak konten digital yang memberi kita jawaban instan. Tapi buku bekerja dengan cara berbeda. Ia tidak selalu memberi tahu apa yang harus dipikirkan, tapi mengajak kita memahami kenapa sesuatu bisa terjadi.

Saat membaca, aku belajar untuk:

  • duduk lebih lama dengan satu gagasan
  • menerima sudut pandang yang tidak selalu sama dengan punyaku
  • dan pelan-pelan memahami emosi orang lain, bahkan yang tidak pernah aku temui

Membaca membuatku berpikir, bukan sekadar bereaksi. Dan itu rasanya makin penting belakangan ini.

Buku Sebagai Bentuk Pelarian yang Lebih Tenang

Aku juga tidak menyangkal: membaca sering jadi bentuk pelarian. Tapi pelarian yang terasa lebih sehat. dibanding doom scrolling yang kadang bikin capek tanpa sadar, membaca buku memberiku satu dunia untuk dimasuki sepenuhnya. Tanpa notifikasi. Tanpa distraksi. Hanya aku dan halaman demi halaman.

Kadang satu jam membaca terasa jauh lebih menyegarkan daripada berjam-jam menatap layar tapi tidak benar-benar ke mana-mana.

Membaca Diam-diam Membentuk Cara Kita Menulis dan Berpikir

Sebagai seseorang yang suka menulis dan ngeblog, aku merasa membaca adalah fondasi yang tidak bisa dilepaskan. Dari buku, aku belajar banyak hal tanpa sadar, tentang alur, pilihan kata, dan cara menyampaikan gagasan dengan lebih jernih.

Semakin sering membaca, semakin terasa bahwa apa yang kita tulis juga ikut dipengaruhi oleh apa yang kita baca. Bukan untuk meniru, tapi untuk memperkaya sudut pandang.

Tidak Semua Bacaan Harus Terasa “Pintar”

Salah satu kesalahpahaman tentang membaca adalah anggapan bahwa buku harus selalu berat, serius, dan penuh teori. Padahal tidak selalu begitu.

Novel ringan, cerita populer, atau bahkan membaca ulang buku lama tetap punya nilai. Kadang justru dari bacaan yang sederhana, kita menemukan rasa nyaman atau makna yang tidak terduga.

Buatku, membaca bukan soal seberapa “tinggi” bukunya, tapi seberapa jujur pengalaman yang kita dapatkan darinya.

Membaca Buku Jadi Pilihan

Membaca buku mungkin bukan kebiasaan paling populer hari ini. Tapi justru karena itulah aku masih memilihnya.

Di tengah kebisingan digital, buku menawarkan keheningan. Ruang untuk pelan-pelan berpikir, merasa, dan memahami diri sendiri.

Lewat ikarireads, aku ingin menjadikan membaca bukan sebagai kewajiban atau target, tapi sebagai perjalanan. Pelan, personal, dan, kalau bisa, jujur.

Posting Komentar

0 Komentar